Pelatihan Pijat Endorfin Bagi Dukun Bayi sebagai Teknik Relaksasi pada Ibu Hamil, Bersalin, dan Nifas di Puskesmas Kalibagor
Keywords:
Dukun Bayi, Pijat Endorfin, Teknik RelaksasiAbstract
Para dukun bersalin tradisional, yang sering digunakan sebagai mitra pijat oleh ibu hamil, menerima pelatihan sebagai bagian dari proyek pengabdian masyarakat. Program ini memberikan informasi dan kemampuan yang dibutuhkan peserta untuk memberikan pijat yang aman dan efektif. Tujuan pelatihan pijat endorfin untuk dukun bersalin tradisional adalah untuk memberi mereka teknik sentuhan yang aman dan lembut bagi wanita yang sedang hamil, melahirkan, atau baru saja melahirkan. Pijat ini membantu pelepasan endorfin, yang meningkatkan relaksasi, mengurangi kecemasan, dan mengurangi keparahan nyeri persalinan. Pusat Kesehatan Masyarakat Kalibagor menjadi lokasi proyek pengabdian masyarakat ini. Kegiatan ini dilakukan secara bertahap, dimulai dengan demonstrasi metode pijat endorfin dan presentasi informasi. Metode yang tepat dan aman untuk memberikan pijat endorfin kepada wanita hamil, yang sedang melahirkan, dan pasca melahirkan kemudian diajarkan langsung kepada dua belas mitra dukun bersalin konvensional. Teknik pijat endorfin para mitra dukun bersalin tradisional dinilai setelah instruksi langsung. Para mitra dukun bersalin tradisional mendapatkan pelatihan berkelanjutan hingga mereka terampil dalam memijat wanita hamil, yang sedang melahirkan, dan pasca melahirkan dengan endorfin. Tujuan program pengabdian masyarakat ini adalah untuk mendidik bidan tentang pijat endorfin sebagai metode penenang bagi wanita yang sedang hamil, melahirkan, atau baru saja melahirkan. Strategi yang digunakan dalam pengabdian masyarakat ini dimulai dengan pra-tes, penyampaian materi, penilaian dengan pasca-tes, dan praktik. Peningkatan kesadaran tentang pijat endorfin sebagai metode relaksasi bagi wanita hamil, yang sedang melahirkan, dan pascapersalinan merupakan hasil dari pengabdian masyarakat ini. Antusiasme peserta untuk berdiskusi, mengajukan pertanyaan, dan berbagi pengalaman mereka dalam menangani wanita hamil, yang sedang melahirkan, dan pascapersalinan menunjukkan hal ini. Setelah kegiatan ini, perlu ada tindak lanjut dari peserta untuk menerapkan konseling yang telah diberikan.




